Refleksi dari Volunteer Capacity Building Literaku Indonesia
Ada satu kalimat yang diulang berkali-kali sepanjang sesi malam itu, dan tampaknya kalimat itu berhasil menancap di kepala hampir semua orang yang hadir:
“Tidak ada perspektif yang sepenuhnya objektif.”
Kalimat sederhana. Tapi ternyata tidak semudah itu untuk benar-benar diterima, apalagi dipraktikkan.
Itulah yang menjadi inti dari Capacity Building Literaku Indonesia, yang diselenggarakan pada 12 April 2026 sebagai bagian dari persiapan tim untuk menjalankan program The Voices of Peace , sebuah program yang didanai oleh Uni Eropa dan bertujuan membangun ruang dialog yang lebih inklusif di kalangan pemuda Indonesia.
Siapa yang Hadir?
Sesi ini mengumpulkan peserta dari berbagai latar belakang dalam ekosistem Literaku: Relawan Batch 10 sebagai peserta wajib, ditambah alumni dan relawan senior dari batch-batch sebelumnya yang diundang secara khusus. Fasilitator, project officer, copywriter, dan graphic designer — semua duduk bersama dalam satu ruang virtual.
Dan itulah yang membuat sesi ini berbeda dari sekadar pelatihan biasa. Capacity building ini dirancang sebagai pembekalan — sebelum para relawan mulai menjalankan peran masing-masing dalam program The Voices of Peace, mereka perlu terlebih dahulu berdiri di atas fondasi yang sama. Seorang fasilitator yang memandu diskusi, copywriter yang menulis konten, hingga graphic designer yang memvisualkan pesan — semuanya membawa pengaruh pada bagaimana program ini diterima oleh peserta di lapangan. Jika tiap orang bergerak dengan pemahaman yang berbeda-beda, misi program bisa tercerai-berai di tengah jalan.
Maka sebelum satu pun kegiatan program dimulai, semua dikumpulkan: untuk menyamakan frekuensi, menyatukan misi, dan memastikan bahwa siapapun yang nantinya berhadapan dengan peserta — entah sebagai fasilitator di Zoom, penulis di balik layar, atau desainer yang membuat materi — berbicara dari satu bahasa yang sama.

Ilusi Objektivitas: Ketika Merasa Paling Benar Justru Berbahaya
Topik pertama dan paling mendasar yang dibahas adalah konsep ilusi objektivitas — fenomena di mana seseorang merasa dirinya paling netral, paling tidak bias, dan paling objektif dalam memandang suatu persoalan. Padahal, setiap hal yang kita maknai sudah terlebih dahulu difilter oleh pengalaman hidup, nilai-nilai yang ditanamkan, dan identitas yang kita bawa.
Tiga gejala umum yang menjadi penanda seseorang sedang terjebak di dalamnya:
- “Ini kan jelas-jelas masalahnya simpel, kok dia bikin ribet?”
- “Baca berita ini deh, kamu pasti setuju sama aku kalau kebijakan itu aneh.”
- “Kamu nggak setuju sama aku mungkin karena kamu terlalu emosional, pakai logika kayak aku.”
Contoh-contoh kecil ini justru yang paling mengena. Sebuah pesan “Oke noted.” bisa dibaca sebagai respons yang profesional dan efisien — atau sebagai sinyal bahwa seseorang sedang marah, karena tidak ada emoji, tidak ada huruf ganda, dan memakai titik di akhir. Keduanya adalah interpretasi yang sama-sama nyata bagi orang yang berbeda.
Peserta kemudian mendiskusikan berbagai dampak nyata ketika ilusi objektivitas tidak disadari dan dibiarkan: konflik kecil yang merembet menjadi besar, stereotip yang semakin mengeras, diskriminasi yang dilegalkan atas nama “logika”, hingga runtuhnya kemampuan berkolaborasi karena masing-masing pihak merasa asumsinya adalah satu-satunya yang valid.
Salah satu kontribusi peserta yang paling diingat dalam sesi ini datang dari Adi, yang menarik garis langsung antara ilusi objektivitas dan sejarah kolonialisme: “Kolonialisme terjadi karena penjajah merasa paling pintar, paling benar, budaya mereka paling hebat — sehingga bangsa lain dianggap layak ditindas.” Sebuah pengingat bahwa bias yang tidak diperiksa, pada skala yang cukup besar, bisa menjadi justifikasi untuk kejahatan.
Media, Algoritma, dan AI: Tiga Mesin Penguat Bias
Diskusi kemudian bergerak ke arah yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana media konvensional, algoritma media sosial, dan kecerdasan buatan secara aktif memperparah ilusi objektivitas.
Media konvensional tidak terlepas dari kepentingan pihak yang mendanainya. Sebuah media akan cenderung memproduksi konten yang menyenangkan pemberi dananya — persis seperti seorang karyawan yang bekerja untuk menyenangkan atasan. Mengetahui dari mana sebuah media mendapat pendanaan adalah langkah pertama dalam membaca berita secara kritis.
Algoritma media sosial dirancang bukan untuk memperluas wawasan, melainkan untuk mempertahankan keterlibatan pengguna selama mungkin. Jika kamu menyukai konten dari satu kubu, yang akan terus muncul hanyalah konten dari kubu yang sama. Diversifikasi perspektif adalah sesuatu yang secara aktif dicegah oleh sistem ini.
Kecerdasan buatan, seperti yang disampaikan oleh peserta Nia, sejatinya bukan “Artificial Intelligence” dalam artian yang kita bayangkan — melainkan lebih tepat disebut “advanced autocomplete” yang didesain untuk memvalidasi pengguna, bukan menantang pola pikirnya. AI bahkan bisa “berhalusinasi” dan mengafirmasi pernyataan yang salah sekalipun jika pengguna cukup gigih mendorongnya ke arah tertentu.
Di balik ketiganya, ada satu fenomena yang menyatukan semuanya: echo chamber. Ketika informasi yang kita terima semakin serupa, ketika perspektif berbeda semakin jarang muncul di layar kita, dan ketika opini kelompok kecil mulai terasa seperti kebenaran umum — itulah echo chamber sedang bekerja.
Ada analogi yang disampaikan dalam sesi ini dan sulit untuk dilupakan: jika kamu hidup 24 jam sehari, tapi yang muncul di Instagram Story-mu hanya 15–30 detik — berarti yang kamu lihat di media sosial hanyalah 0,1–0,2% dari apa yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Realitas bukan media sosial.
RASA: Framework untuk Komunikasi yang Lebih Inklusif
Sebagai respons terhadap semua tantangan di atas, Literaku Indonesia memperkenalkan sebuah framework yang dikembangkan khusus untuk kebutuhan program ini: RASA.
Framework ini bukan sekadar teori — ia dirancang untuk langsung bisa diterapkan dalam kerja fasilitasi, pembuatan konten, pengembangan komunitas, dan komunikasi sehari-hari dalam tim.
R — Refleksi Persepsi
Apakah cara pandangku ini sudah benar-benar utuh?
Sebelum merespons sesuatu — entah itu gosip, berita, atau pendapat yang berbeda — berhenti sejenak dan tanyakan: apakah ini fakta utuh, atau hanya sebagian dari kenyataan? Dari mana asal pendapat ini — dari pengalaman langsung, dari asumsi, atau dari narasi orang lain? Dan sudahkah kamu mencari sudut pandang alternatif?
Untuk content writer, ini berarti menyajikan dua perspektif dalam satu konten. Untuk fasilitator, ini berarti mengajak kedua sisi berbicara — bukan hanya yang paling vokal.
A — Akui Posisi
Dari pengalaman dan latar belakang seperti apa aku melihat situasi ini?
Setiap orang melihat dunia dari posisi sosial, historis, dan personal yang berbeda. Seseorang yang sering di-ghosting akan merespons jokes tentang ghosting dengan cara yang sangat berbeda dari yang belum pernah mengalaminya.
Mengakui posisi bukan berarti melemahkan argumen — justru sebaliknya, ini adalah bentuk kejujuran intelektual. Dibandingkan berkata “Indonesia aman-aman aja,” lebih inklusif untuk berkata: “Menurutku, sebagai perempuan Jawa yang tinggal di kota, Indonesia terasa aman — tapi aku tahu pengalaman banyak orang sangat berbeda dari pengalamanku.”
S — Semai Empati
Sudahkah aku memberi ruang untuk memahami apa yang dirasakan orang lain?
Mendengarkan sampai tuntas — tanpa memotong, tanpa menginvalidasi, tanpa buru-buru menyanggah. Mengulangi apa yang disampaikan orang lain untuk menunjukkan bahwa kamu benar-benar menyimak. Dan yang paling penting: memvalidasi pengalaman mereka, bahkan ketika kamu tidak merasakannya sendiri.
Empati bukan berarti setuju. Empati berarti mengakui bahwa pengalaman orang lain adalah nyata bagi mereka.
A — Ambil Aksi
Langkah kecil apa yang bisa aku lakukan sekarang?
Komunikasi inklusif bukan sekadar sikap batin — ia harus berwujud tindakan nyata, sekecil apapun. Memilih kata-kata yang lebih netral. Membantu menjaga suasana percakapan agar tetap produktif ketika diskusi mulai memanas. Dan yang paling krusial: melakukannya berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan.
Satu Pertanyaan yang Tak Mudah Dijawab
Sesi tanya jawab menghadirkan pertanyaan yang mungkin dirasakan banyak orang tapi jarang disuarakan secara terbuka:
“Bagaimana memahami orang lain dan berempati, tapi juga membentengi diri? Adakah batasan sejauh mana kita harus mengerti orang lain, terutama ketika pola kesalahannya berulang?”
Jawabannya tidak hitam-putih, tapi satu hal ditekankan dengan sangat jelas: asosiasi dan label di dalam kepala adalah hal yang manusiawi dan biologis — otak memang bekerja dengan cara menyederhanakan informasi untuk membantu kita menavigasi dunia. Yang tidak sehat adalah ketika label itu keluar sebagai penghakiman verbal.
Dan ketika lelah sudah mencapai batasnya? Kita tidak punya kewenangan untuk mengubah orang lain. Yang bisa kita kendalikan hanya diri sendiri — termasuk keputusan untuk mundur, menjaga jarak, atau mengkomunikasikan batasan dengan jelas. Framework Nonviolent Communication (NVC) disebut sebagai salah satu alat yang bisa dipelajari lebih lanjut untuk situasi seperti ini.
Suara Peserta: Apa yang Benar-Benar Berubah?
Setelah sesi selesai, peserta mengisi asesmen tertulis yang terdiri dari soal pilihan ganda dan esai reflektif. Karena bagian esai tidak memiliki jawaban benar atau salah — ia menilai kedalaman refleksi — semua peserta dinyatakan lulus dengan nilai tertinggi yang dicapai adalah 100/100.
Tapi angka bukan yang paling menarik. Yang paling menarik adalah apa yang mereka tulis.
“Aku baru menyadari bahwa merasa objektif seringkali adalah sebuah pandangan yang memihak. Ini mengubah perspektifku untuk tidak gampang menghakimi orang lain karena berbeda pendapat.” — Maritta Permata Alifia
“Ternyata nggak ada hal sekalipun orang yang bener-bener objektif. Itu cuma ilusi objektivitas saja.” — Nur Khovivatul Mukorrobah
“Yang paling mengubah adalah penjelasan tentang media konvensional, algoritma medsos, dan AI — karena ketiganya sering dijadikan standar kebenaran di era VUCA yang kita jalani sekarang.” — Ari Bagus Setiawan
“Framework RASA memberikan perspektif dan modal untuk memeriksa diri sendiri dan membangun lingkungan yang lebih reflektif.” — Rizky Demas Arjunanda
Capacity Building ini merupakan bagian dari persiapan tim Literaku Indonesia untuk program The Voices of Peace, yang didukung oleh Youth Empowerment Fund dan didanai oleh European Union melalui Global Youth Mobilization.
Pelajari lebih lanjut tentang program kami di kanal resmi Literaku Indonesia.


