Kilas Balik Litera-Club Sesi 1
Bayangkan sebuah ruang diskusi yang mempertemukan anak muda dari Aceh dan Papua Barat Daya, dari Makassar dan Magelang, dari siswa SMA yang baru beranjak dewasa hingga mahasiswa pascasarjana — semua dalam satu layar, semua dengan satu pertanyaan besar di kepala:
Mengapa kita terjebak dalam lingkaran informasi yang sama?
Itulah yang terjadi di Litera-Club Sesi 1, bagian dari program The Voices of Peace yang diinisiasi oleh Literaku Indonesia bersama Global Youth Mobilization, didukung penuh oleh European Union melalui Youth Empowerment Fund.
100+ Pemuda, 81 Kota, Satu Ruang Diskusi
Sesi pertama ini berhasil mengumpulkan 100 peserta yang tercatat hadir dari berbagai penjuru Indonesia. Data presensi menunjukkan keberagaman yang luar biasa: peserta berasal dari setidaknya 81 kota dan kabupaten yang tersebar dari ujung barat hingga timur Nusantara — mulai dari Jakarta, Bandung, Makassar, Medan, Aceh, Jambi, Surabaya, Semarang, hingga Papua Barat Daya.
Secara demografi:
- Usia peserta didominasi rentang 17–29 tahun, dengan puncak di usia 19–20 tahun — generasi yang tumbuh bersama media sosial
- Latar belakang pendidikan beragam: 57% mahasiswa S1, 27% pelajar SMA/sederajat, 11% lulusan/mahasiswa S2, dan sisanya dari jenjang Diploma dan SMP
- Komposisi gender: sekitar 70% perempuan dan 30% laki-laki
- Sebagian peserta mengidentifikasi diri sebagai bagian dari kelompok yang selama ini kurang terwakili dalam ruang-ruang diskusi publik
Keberagaman ini menjadi kekuatan utama diskusi. Perspektif dari Papua berbeda dengan perspektif dari Jakarta. Pengalaman anak muda Aceh berbeda dengan anak muda Bali. Dan justru di sinilah Litera-Club menemukan relevansinya.
Topik yang Terasa Begitu Dekat
Di era di mana scroll adalah refleks dan FYP adalah jendela dunia, topik Litera-Club Sesi 1 terasa sangat tepat waktu.
Sesi ini membahas bagaimana algoritma media sosial bekerja secara diam-diam membentuk konten yang kita konsumsi setiap hari. Tanpa kita sadari, konten yang muncul di layar kita bukan cerminan dunia yang sesungguhnya — melainkan cerminan dari apa yang sudah kita sukai, setujui, dan percayai sebelumnya. Fenomena ini dikenal sebagai filter bubble atau echo chamber.
Fasilitator membawa peserta untuk merenungkan: kalau kita hanya terekspos pada sudut pandang yang sejenis — dari media sosial, lingkaran pertemanan, hingga kebiasaan browsing kita sendiri — apakah kita sungguh berpikir secara bebas? Atau sebenarnya kita hanya mengonfirmasi ulang apa yang sudah kita pikir benar?
Pertanyaan ini ternyata menyentuh saraf yang tepat. Para peserta tak hanya menyimak — mereka merespons, mempertanyakan, dan berbagi pengalaman nyata.
Apa Kata Mereka?
Yang paling menyentuh tentu adalah suara peserta itu sendiri. Ketika diminta menuliskan satu hal yang mereka pelajari atau refleksikan, jawabannya beragam dan dalam:
“Banyak sekali cara berpikir teman-teman yang ternyata out of the box. Diskusi ini menunjukkan bahwa setiap topik dapat didiskusikan lebih luas dari sekadar pro dan kontra.” — Annisa Putri Ramadhani, Sumatera Selatan
“Dari sesi hari ini, saya belajar bahwa kita bisa terjebak dalam informasi yang sama karena terlalu sering melihat sudut pandang yang sejenis, baik dari media sosial, lingkungan pertemanan, maupun kebiasaan kita sendiri. Hal itu membuat cara berpikir menjadi sempit tanpa sadar. Saya jadi memahami pentingnya berpikir kritis, mencari sumber yang berbeda, dan tidak langsung percaya pada satu informasi saja agar wawasan kita lebih luas.” — Khotib, Papua Barat Daya
Tentang Litera-Club
Litera-Club adalah program diskusi rutin yang diinisiasi oleh Literaku Indonesia sebagai bagian dari Youth Empowerment Fund — proyek yang didukung oleh European Union melalui kemitraan dengan Global Youth Mobilization. Program ini hadir untuk menciptakan ruang aman bagi anak muda Indonesia untuk bertanya, berdiskusi, dan tumbuh bersama.
📌 Sesi 2 segera hadir. Pantau terus kanal resmi kami untuk informasi lebih lanjut.



