Kenapa Kita Takut untuk Berpendapat?
Penulis: Fathiya Setiadi (fathiyahaya8c@gmail.com)
*Pendapat yang tertuang dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Literaku Indonesia.
TAKUT BERPENDAPAT
Pernahkah kamu berada dalam suatu diskusi, lalu pemimpin diskusi menanyakan pendapat setiap orang, dan kamu yang memiliki pendapat memilih diam saja karena merasa takut untuk bersuara? Atau mungkin, kamu pernah berada di posisi sebagai pemimpin diskusi yang menanyakan pendapat anggota diskusi, tetapi tidak ada satu pun yang merespons? Situasi seperti ini kerap terjadi dalam berbagai ruang diskusi. Oleh karena itu, penting untuk membahas fenomena ini dari dua sisi, yaitu dari sudut pandang anggota diskusi dan dari sudut pandang pemimpin diskusi.
Jika dilihat dari sisi anggota diskusi, pertanyaan utama yang muncul adalah “Mengapa seseorang merasa takut untuk bersuara?” Perasaan takut ini dapat muncul karena berbagai faktor, seperti kurangnya kepercayaan diri, ketakutan akan penolakan atau kritik, serta kekhawatiran terhadap respons negatif dari orang lain. Tidak jarang seseorang merasa cemas pendapatnya akan ditertawakan, diejek, diabaikan, atau bahkan membuat dirinya dipandang rendah karena dianggap kurang berbobot. Lebih jauh lagi, ketakutan untuk menyuarakan pendapat juga dapat bersumber dari pengalaman masa lalu, pengaruh media dan stereotip yang berkembang di masyarakat, serta lingkungan yang cenderung otoriter (Lestari et al., 2023; Zam Zam, 2024).
Dalam konteks ini, dikenal pula istilah FOPO atau Fear of Other People’s Opinion, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami kecemasan berlebih terhadap opini orang lain (Halodoc, 2024). FOPO dapat menghambat kehidupan sosial seseorang, termasuk keberaniannya untuk mengemukakan pendapat di ruang publik atau diskusi (Sukeresminingsih, 2024). Fakta bahwa FOPO semakin banyak diteliti dan menjadi topik pembahasan dalam isu kesehatan mental menunjukkan bahwa rasa takut untuk menampilkan diri dan mengungkapkan isi pikiran akibat kekhawatiran terhadap respons orang lain merupakan kondisi yang perlu diperhatikan dan ditangani secara serius (Halodoc, 2024).
Meski demikian, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa takut tersebut. Salah satunya adalah dengan memperkaya wawasan melalui membaca dan mencari informasi secara aktif. Ketika seseorang memiliki dasar pemahaman yang kuat atas apa yang ingin disampaikan, kepercayaan diri pun akan meningkat. Selain itu, penting untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bantahan, karena dalam diskusi tidak semua orang akan sepakat dengan pendapat yang disampaikan. Mempersiapkan argumen lanjutan dapat membantu mempertahankan pendapat secara lebih tenang. Latihan kemampuan public speaking juga menjadi langkah penting mengingat kepanikan saat berbicara sering kali membuat pesan tidak tersampaikan dengan baik. Dengan kemampuan komunikasi yang terlatih, pendapat dapat disampaikan secara lebih jelas dan percaya diri. Di samping itu, keyakinan terhadap pendapat sendiri perlu dibarengi dengan sikap santun serta keterbukaan terhadap kritik dan pandangan orang lain, karena diskusi akan berjalan lebih sehat ketika setiap pihak saling menghargai (Y, 2022).
Dari sisi pemimpin diskusi, muncul pertanyaan lain, yaitu “Mengapa peserta diskusi enggan menyampaikan pendapat mereka?” Penyebabnya bisa beragam dan sering kali berkaitan dengan faktor-faktor ketakutan untuk bersuara yang telah dibahas sebelumnya. Peserta diskusi mungkin merasa arah diskusi terlalu condong pada satu pandangan tertentu sehingga pendapat lain tidak dianggap penting. Selain itu, suasana diskusi yang belum terasa aman dan inklusif juga dapat membuat peserta memilih untuk diam.
Sebagai pemimpin diskusi, terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana diskusi yang nyaman dan mendorong partisipasi aktif. Pemimpin perlu memastikan bahwa topik diskusi disampaikan secara jelas dan dapat dipahami oleh semua peserta, sehingga mereka memiliki keyakinan untuk berpendapat. Pengaturan alur pembicaraan yang baik juga penting agar setiap orang memiliki kesempatan berbicara. Selain itu, pemimpin diskusi perlu mendorong peserta untuk saling menyimak dan menghargai setiap pendapat yang muncul, serta menindaklanjuti atau membahas lebih lanjut pendapat tersebut agar tidak ada peserta yang merasa diabaikan (Putu, 2021). Dengan suasana diskusi yang aman dan suportif, setiap orang akan merasa lebih nyaman untuk mengungkapkan pandangannya, sehingga diskusi dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran yang lebih beragam dan bermakna.
Daftar Referensi
BBC News Indonesia. (2025). Kematian mahasiswa Timothy Anugerah dan dugaan perundungan di Universitas Udayana. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn7eg3rk0kjo
Siloam Hospitals. (2024). The impacts of bullying on the victims and the perpetrators. https://www.siloamhospitals.com/en/informasi-siloam/artikel/the-impacts-of-bullying-on-the-victims-and-the-perpetrators
UNICEF. (2025). Bullying: What is it and how to stop it. UNICEF

