AREL: Cara Simpel biar Suara Kita Didengar di Dunia Kerja
Penulis: Dinda Sukma Kartika (hobinyadinda@gmail.com)
*Pendapat yang tertuang dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Literaku Indonesia.
ASSERTION
REASONING
EVIDENCE
LINK-BACK
Pernah nggak sih, kamu lagi rapat, punya ide bagus, tapi akhirnya diam karena takut disalahpahami? Atau, malah kebalikannya? Kamu ngomong apa adanya, tapi rekan kerja malah tersinggung? Di dunia kerja, komunikasi itu bukan cuma soal orang yang paling cepat ngomong, tapi siapa yang bisa menyampaikan ide dengan jelas dan tetap menghormati orang lain.
Nah, di sinilah metode AREL (Assertion, Reasoning, Evidence, Link) bisa jadi penyelamat.
Begitu pun sebaliknya, pengalaman yang kurang sehat seperti pengabaian, kekerasan, dan hal apa pun yang menyebabkan luka batin akan mempengaruhi kesehatan mental seorang individu di masa depan. Akibatnya, seseorang akan sering menilai dirinya kurang layak, minder, hingga tidak percaya diri dengan lingkungannya. Oleh sebab itu, mengenali, menerima, serta merawat inner child butuh untuk dilakukan agar seseorang dapat mencapai kesejahteraan emosional dan keadaan psikis yang lebih baik (Memahami Inner Child Dan Cara Mengatasi Luka Masa Kecil, n.d.).
Lalu, bagaimana kita bisa mengenali inner child yang muncul dari dalam diri kita sendiri? Inner child yang kurang sehat biasanya muncul seiring dengan tanda-tanda emosional, perilaku, dan pola pikir yang menggambarkan atau mewakili reaksi masa kecil yang belum terselesaikan. Beberapa tanda tersebut adalah sebagai berikut.
Assertion itu intinya berani ngomong pendapatmu secara lugas. Misalnya, “Aku rasa proyek ini bisa jalan lebih efisien kalau kita pakai sistem digital.” Nggak muter-muter, nggak defensif.
Lalu, Reasoning, jelasin alasannya: “Karena sistem manual sering bikin data ganda dan butuh waktu lama buat rekap.”
Masuk ke Evidence. Kasih bukti biar nggak kesannya cuma asumsi: “Contohnya, di divisi marketing, kita butuh waktu dua minggu buat input data manual. Tapi saat pakai sistem digital bulan lalu, cuma butuh tiga hari.”
Terakhir, Link. Simpulkan dan sambungkan lagi ke intinya: “Jadi, digitalisasi bisa bantu kita hemat waktu dan kerja lebih efektif.”
Kalau dipikir-pikir, AREL itu bukan cuma teknik debat, tapi juga etika komunikasi. Kita nggak asal ngomong, nggak juga nyerang pendapat orang. Dengan struktur kayak gini, ide kita jadi lebih tertata dan bisa diterima tanpa bikin suasana tegang.
Dari pengalaman volunteering di Literaku, aku belajar kalau banyak konflik itu bukan karena orangnya jahat, tapi karena cara komunikasinya kurang jernih. Kadang orang cuma mau didengar, tapi caranya nyampein bikin orang lain defensif. Nah, dengan AREL, kita belajar ngomong dengan damai tapi tetap tegas. Ini nilai yang menurutku penting banget buat dunia kerja sekarang, apalagi di era serba cepat dan multitasking kayak gini.
AREL juga ngajarin kita buat slow down sedikit. Jangan buru-buru reaktif, tapi pikirin dulu struktur argumen kita. Itu bikin komunikasi lebih mindful, bukan asal debat, tapi benar-benar berupaya nyambungin ide dengan logika dan bukti.
Buatku pribadi, ini relevan banget. Sebagai seseorang yang cenderung spontan dan suka aksi cepat, aku sering banget pengin langsung ngomong atau ngasih solusi. Tapi lewat AREL, aku belajar menata dulu isi kepala biar pesanku nggak keburu ditolak cuma karena penyampaiannya kurang enak.
AREL itu kayak GPS dalam komunikasi: bantu kita tetap di jalur, biar sampai tujuan tanpa nabrak perasaan orang lain. Dan di tempat kerja, itu skill emas. Karena sekuat apa pun kemampuan teknismu, kalau nggak bisa ngomong dengan tenang dan jelas, ide bagusmu bisa tenggelam begitu aja.
Jadi, buat siapa pun yang pengin suaranya lebih didengar tapi tetap beretika, coba, deh, latihan AREL. Mulai dari hal kecil: kasih feedback ke teman kerja, diskusi di rapat, atau bahkan pas debat santai di kafe. Lama-lama, kamu bakal sadar kalau komunikasi damai itu bukan soal menahan diri. Tapi, soal menyampaikan pendapat dengan cara yang bisa diterima semua pihak.
Disclaimer: Artikel esai ini merupakan project aksi sosial #DenganDamai yang diselenggarakan oleh Literaku.id.
Daftar Referensi
Literaku Indonesia. (2024). Program #DenganDamai: AREL (Assertion, Reasoning, Evidence, Link). Literaku.id. https://literaku.id/
Rosenberg, M. B. (2015). Nonviolent Communication: A Language of Life (3rd ed.). PuddleDancer Press.
Carnegie, D. (2019). How to Win Friends and Influence People. Simon & Schuster.

