Belajar Memahami, Bukan Menghakimi: Stereotip Kesehatan Mental dalam Sosial Media
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa adanya interaksi serta hubungan dengan manusia lain. Hal ini terjadi karena manusia harus memenuhi kebutuhan untuk menjalankan kehidupan mereka masing-masing. Dalam kehidupan sosialnya, terdapat berbagai macam interaksi yang terjadi, mulai dari hal-hal yang positif sampai ke hal-hal yang negatif. Melalui berbagai interaksi tersebut, sering kali muncul penilaian atau anggapan tertentu terhadap individu atau suatu kelompok. Penilaian ini kemudian dapat berkembang menjadi sebuah stereotip dalam masyarakat.
Stereotip sendiri dapat didefinisikan sebagai keyakinan mengenai karakteristik atau ciri khas orang-orang yang diklasifikasikan kedalam sebuah kategori sosial. Definisi tersebut menekankan bahwa stereotip mempunyai kekuatan yang signifikan dalam membentuk kehidupan sosial seseorang karena keyakinan negatif dapat merusak kesejahteraan para individu (Eagly & Koenig, 2025). Berbagai macam stereotip yang disebarluaskan dan diadopsi dalam masyarakat tidak hanya terjadi dalam situasi langsung saja, tetapi juga seringkali terjadi melalui platform sosial media yang luas. Hal ini dapat memperburuk eksistensi stereotip yang merugikan karena masyarakat cenderung untuk lebih berani dalam mengutarakan opini mereka dalam sosial media tanpa berpikir secara kritis untuk menghindari terjadinya sikap menyinggung individual lain.
Dengan demikian, mengembangkan kesadaran atau pola pikir reflektif merupakan hal yang penting untuk dilakukan bagi masyarakat agar dapat menilai orang lain berdasarkan pemahaman yang objektif serta memiliki sikap bijak dalam menggunakan sosial media.
Dalam era modern saat ini, perbincangan mengenai kesehatan mental bukanlah lagi sebuah topik yang jarang didengar oleh masyarakat, baik dalam kalangan remaja maupun orang tua. Berbagai platform media sosial sudah terbuka secara bebas dalam membantu masyarakat menyebarluaskan informasi ataupun edukasi mengenai isu kesehatan mental. Namun, masih banyak individu yang enggan untuk memahami secara baik mengenai isu tersebut. Hal ini kemudian seringkali menghasilkan perilaku-perilaku negatif yang merugikan orang lain, khususnya stereotip mengenai individu yang mengalami gangguan kesehatan mental.
World Health Organization (WHO) telah mencatat bahwa terdapat kurang lebih satu miliar orang di seluruh dunia yang hidup dalam suatu kondisi kesehatan mental yang mengharuskan mereka untuk mendapatkan perawatan profesional (World Health Organization, 2025). Angka tersebut menggarisbawahi betapa seriusnya permasalahan kesehatan mental dalam tingkat global. Sebagaimana sosial media dapat menjadi sebuah medium untuk masyarakat menggunakan stereotip negatif terhadap individu yang mengalami gangguan mental (Rizzo dkk., 2024), fenomena ini menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan besar antara peningkatan kesadaran publik dan penerimaan sosial terhadap isu kesehatan mental.
Stereotip mengenai kesehatan mental seringkali muncul dalam bentuk anggapan bahwa individu yang mengalami gangguan, seperti depresi, hanyalah memiliki kebiasaan malas dan gaya hidup yang tidak sehat. Karena sosial media dapat menjadi sebuah tempat untuk masyarakat mengungkapkan perasaan mereka, stereotip seperti ini dapat ditemukan dalam kolom komentar sebuah postingan mengenai seseorang yang sedang mengekspresikan dirinya dalam akun sosial media mereka. Stereotip negatif mengenai kesehatan mental dapat menghambat individu yang terlibat dalam meminta bantuan terhadap orang terdekat ataupun bantuan profesional (Jauch dkk., 2025). Hal ini terjadi karena stereotip terhadap kesehatan mental dapat memunculkan rasa takut dan pemikiran bahwa yang mereka alami bukanlah suatu hal yang serius sehingga mereka harus menerima keadaan yang ada dan melupakannya.
Jika hal seperti ini terus terjadi, para individu yang mengalami gangguan mental akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan mereka dengan baik. Oleh karena itu, memahami bahwa gangguan kesehatan mental bukanlah suatu kelemahan pribadi, melainkan kondisi yang membutuhkan empati dan dukungan merupakan hal yang krusial untuk setiap individu. Lebih lanjut lagi, upaya untuk menghapus stereotip negatif dapat mulai dilakukan melalui peningkatan konten edukasi dan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental. Maka dari itu, lingkungan yang bersifat inklusif serta mendukung tiap individu yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya dalam lingkup sosial media dapat diciptakan dengan baik.
Daftar Referensi
Eagly, A. H., & Koenig, A. M. (2021). The Vicious Cycle Linking Stereotypes and Social Roles. Current Directions in Psychological Science, 30(4), 343–350. https://doi.org/10.1177/09637214211013775
Jauch, M., Occhipinti, S., O’Donovan, A., & Clough, B. (n.d.). Mental illness stereotype content in a sample of undergraduates from mental health-related fields. Australian Psychologist, 0(0), 1–14. https://doi.org/10.1080/00050067.2025.2558610
Over a billion people living with mental health conditions – services require urgent scale-up. (n.d.). Retrieved November 10, 2025, from https://www.who.int/news/item/02-09-2025-over-a-billion-people-living-with-mental-health-conditions-services-require-urgent-scale-up
Rizzo, A., Calandi, L., Faranda, M., Rosano, M. G., Carlotta, V., & Vinci, E. (2024). Stigma against Mental Illness and Mental Health: The role of Social Media. Em SciELO Preprints. https://doi.org/10.1590/SciELOPreprints.8985
