Repair System: Inner Child dan Kepribadiannya
Penulis: Umi Hanifah Zakia Rahmah (rahmahzakia22@gmail.com)
*Pendapat yang tertuang dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Literaku Indonesia.
inner child
Inner child adalah bagian diri dari suatu individu yang mewakili sisi anak-anak yang tidak ikut tumbuh secara penuh hingga dewasa. Dalam arti lain, inner child merupakan bagian dari individu yang berhubungan dengan cara seseorang menerima, mengendalikan, dan berdamai dengan luka batin dalam dirinya (Suryana & Latifa, 2023). Ia tidak hanya menggambarkan masa lalu, tetapi juga membantu individu untuk menyeimbangkan, mengevaluasi diri, dan memaknai pengalaman hidup.
Inner child yang terluka dapat muncul dalam keadaan negatif, pengambilan keputusan, dan hubungan sosial yang kurang sehat pada masa dewasa. Hal itu disebabkan inner child menyimpan kenangan, emosi, dan pengalaman masa kecil, baik yang positif maupun negatif. Pengalaman yang menyenangkan penuh dengan energi positif dan penuh kasih sayang akan memberikan energi positif pula dalam perkembangan seseorang yang menyebabkan dirinya dapat tumbuh dalam sikap optimisme.
Begitu pun sebaliknya, pengalaman yang kurang sehat seperti pengabaian, kekerasan, dan hal apa pun yang menyebabkan luka batin akan mempengaruhi kesehatan mental seorang individu di masa depan. Akibatnya, seseorang akan sering menilai dirinya kurang layak, minder, hingga tidak percaya diri dengan lingkungannya. Oleh sebab itu, mengenali, menerima, serta merawat inner child butuh untuk dilakukan agar seseorang dapat mencapai kesejahteraan emosional dan keadaan psikis yang lebih baik (Memahami Inner Child Dan Cara Mengatasi Luka Masa Kecil, n.d.).
Lalu, bagaimana kita bisa mengenali inner child yang muncul dari dalam diri kita sendiri? Inner child yang kurang sehat biasanya muncul seiring dengan tanda-tanda emosional, perilaku, dan pola pikir yang menggambarkan atau mewakili reaksi masa kecil yang belum terselesaikan. Beberapa tanda tersebut adalah sebagai berikut.
Emosi yang Intens dan Tidak Proporsional
Terkadang saat kita berada di posisi yang menurut kita sulit untuk diatasi, tubuh mengeluarkan reaksi alami seperti takut, sedih, marah, ataupun cemas yang berlebihan. Hal ini menjadi tanda bahwa inner child yang terbawa dalam diri kita bereaksi terhadap pengalaman di masa lalu.
Pola Perilaku Lama yang Terulang Kembali
Kebiasaan negatif akibat rasa kurang diterima kembali hadir, sehingga menimbulkan gejala seperti menghindar, menyendiri, atau reaksi defensif yang muncul tanpa sadar. Hal tersebut seringkali adalah sebuah bentuk manifestasi inner child yang terluka.
Pola Adanya Perasaan Ingin Diterima secara Mendalam
Hadir di lingkungan baru atau suatu hal yang baru muncul dalam kehidupan kadang membuat kita merasa takut kehilangan, kurang percaya diri, serta merasa kurang layak dihargai dan dicintai seperti anak kecil yang merasa terabaikan.
Kembali kepada Pikiran tentang Masa Lalu (Flashback)
Terkadang, inner child muncul dengan membawa ingatan atau perasaan yang pernah berkaitan dengan suatu hal yang terjadi di masa kecil. Mereka sering mengekspresikan kebutuhan psikologis yang dalam seperti perhatian, kasih sayang, rasa penerimaan, dan lain sebagainya yang terasa sebagai kecemasan dalam hubungan.
Respons Fisik
Trauma yang dialami di masa kecil membawa dampak yang buruk terhadap fisik kita. Terkadang, inner child menghadirkan perasaan tegang, sesak nafas, atau sensasi aneh dalam tubuh terhadap peristiwa tertentu yang menunjukkan relasi emosional dan psikologis yang terikat dengan inner child.
Dikutip dari resensi buku “Berdamai dengan Inner child” (Nadzira Shafa, 2024) “Di dalam diri kita, masih ada anak kecil yang memaafkan luka yang pernah dirasakannya. Luka karena ditinggalkan orang terdekat, luka akibat pengabaian, atau rasa bersalah yang mengendap lama. Proses berdamai dengan inner child adalah mengenal, merangkul, menerima, dan menyembuhkan, serta berbicara dengan semua luka, dan akhirnya berdamai dengan anak kecil yang terkurung dalam kegelapan pada diri kita”.
Dalam kutipan tersebut, telah dijelaskan cara kita merangkul inner child, sebagai sosok yang mengalami luka emosional di masa lampau, agar dapat berbenah untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Dengan cara mengenal, berbicara, merangkul, menerima, menyembuhkan semua luka hingga akhirnya berdamai. Kutipan ini jelas tidak mudah untuk dibawa langsung untuk dipraktikkan. Penerapan kutipan tersebut membutuhkan proses yang mungkin bisa saja dapat memakan banyak waktu. Mengapa kita harus menyembuhkannya? Seperti yang dijelaskan di awal, inner child membawa indikator penting yang mewakili bagian terdalam dari diri kita yang menyimpan luka batin yang belum terselesaikan. Apabila terus diabaikan dan tidak diperhatikan, luka tersebut dapat mempengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku individu secara tidak sadar yang dapat menyebabkan pola destruktif dalam kehidupan dewasa.
Salah satu kunci agar kita dapat memperbaiki inner child yang ada adalah dengan mau berproses. Dengan mengenali apa yang sebenarnya sedang berperang dalam diri kita sendiri, atau yang secara tidak sadar telah tumbuh menjadi sumber trauma atau luka batin yang mempengaruhi perasaan emosional. Pengenalan menjadi langkah awal untuk memahami akar masalah yang seringkali tersembunyi di alam bawah sadar kita. Ketika kita berhasil untuk membuka pintu atau berhasil mengungkapkan apa yang kita rasakan, langkah selanjutnya adalah memberi kesempatan terhadap diri sendiri untuk dapat sembuh dengan lembut dan penuh pengertian. Proses ini identik seperti kita merawat tanaman atau hewan peliharaan kita dengan perhatian dan cinta agar dapat tumbuh sehat. Lalu, kita membebaskan diri dari bayangan masa lalu yang menghantui dan menggantinya dengan harapan serta kekuatan baru yang lebih positif. Dalam ujung jalan ini nanti, kita akan mudah melepaskan segala beban yang dipikul serta tidak perlu lagi mencemaskan suatu hal dan kita dapat menerima keberadaan diri kita secara utuh, baik yang terluka maupun yang penuh akan harapan. Langkah ini membangun fondasi kebahagiaan dan kesejahteraan batin dengan kokoh.
Berdamai dengan inner child, bukan hanya sekadar proses menyembuhkan luka lama, melainkan juga perjalanan transformasi diri yang membawa kedamaian dan melepaskan belenggu emosional yang ada. Penyembuhan ini membuka pintu bagi pertumbuhan pribadi yang lebih sehat dan penuh makna. Sudah saatnya, kita memberi ruang bagi inner child untuk didengar dan dirangkul karena kebahagiaan sejati bermula dari kedamaian yang kita ciptakan dari dalam diri sendiri dengan menerima dan memeluk semua yang ada. Dengan menyadari dan menerima inner child, kita tidak hanya menyembuhkan diri, tetapi juga mengekspresikan diri menjadi pribadi yang mau tumbuh menjadi lebih baik.

